![]() |
Perlahan aku membuka mata. Pusing sekali. Rasa ngilu berdenyut di belakang kepala yang tertutup perban. Di mana aku? Oh, di rumah sakit. Sekuat tenaga kutahan agar tidak pingsan lagi. Entah sudah berapa kali aku pingsan. Setiap membuka mata dan rasa pusing tidak tertahankan, pandanganku menjadi gelap.
Kulirik ke samping tempat tidur. Menoleh sedikit saja membuatku semakin pusing. Dia ada di sana. Bapa, suamiku tercinta. Melihat aku sudah sadar, Bapa langsung menarik tempat duduknya ke samping tempat tidur. Digenggamnya tanganku dengan erat. Tangan yang satu lagi mengusap rambutku. Aku lupa apa saja yang Bapa katakan karena aku sedang berjuang untuk tetap sadar. Lebih baik kupejamkan mata saja. Daripada memandang langit-langit kamar dan segala perabotannya yang berputar.






