Martapura, 12 Desember 2002
Suasana pasar batu permata terlihat lenggang pada hari kerja. Bayi kecil berumur sepuluh hari terlihat tenang dalam gendongan sang nenek. Sementara aku mengamati deretan batu perhiasan bertahtakan permata di etalase toko. Berkilauan. Cantik.
"Kamu mau? Pesan aja," kata pria yang belum genap setahun menjadi pendamping hidupku. Aku mengangguk ragu. Aku memang sudah lama tidak menggunakan anting. Sejak lulus SMP, anting emasku entah hilang ke mana. Aku segan minta kepada orangtua untuk membelikan anting lagi. Aku lebih sering memakai anting plastik dengan aneka warna dan bentuk untuk menghiasi kedua telingaku.





