Thursday, January 14, 2016

Ibu Dilarang Sakit

ibu dilarang sakit

Ibu dilarang sakit. Lho, Ibu kan manusia juga. Masa nggak boleh sakit? Kenyataannya semua orang pasti bisa sakit, termasuk juga saya sebagai seorang ibu. Minggu pertama di awal tahun 2016 ini saya habiskan dalam keadaan lemas. Saya sakit setelah pulang dari liburan ke Garut. Liburan yang singkat namun cukup melelahkan karena waktu tempuh yang lebih lama karena macet.

   Penyakit yang sering saya derita biasanya disebabkan oleh kelalaian sendiri. Misalnya: kena radang tenggorokan karena minum es terus, sakit maag karena telat makan, sakit kepala karena stress, dan sebagainya. Termasuk diare akut yang saya alami tempo hari. Penyebabnya bukan karena makan sambal, tapi gara-gara makan pisang! Sudah tahu lambung saya sensitif dengan buah yang satu ini. Saya malah makan pisang untuk melancarkan buang air besar. Akibatnya, saya jadi diare sampai susah tidur. Duh!

Wednesday, January 6, 2016

Happy 14th Anniversary!



Martapura, 12 Desember 2002

Suasana pasar batu permata terlihat lenggang pada hari kerja. Bayi kecil berumur sepuluh hari terlihat tenang dalam gendongan sang nenek. Sementara aku mengamati deretan batu perhiasan bertahtakan permata di etalase toko. Berkilauan. Cantik.

  "Kamu mau? Pesan aja," kata pria yang belum genap setahun menjadi pendamping hidupku. Aku mengangguk ragu. Aku memang sudah lama tidak menggunakan anting. Sejak lulus SMP, anting emasku entah hilang ke mana. Aku segan minta kepada orangtua untuk membelikan anting lagi. Aku lebih sering memakai anting plastik dengan aneka warna dan bentuk untuk menghiasi kedua telingaku.

Thursday, December 24, 2015

Sistalisius.com: Tempat Belanja Produk Etnik Lokal yang Unik


Dalam hal fashion, boleh dibilang saya punya gaya sendiri dan tidak mau mengikuti tren. Saya lebih suka tampil dengan atribut fashion yang menurut saya nyaman dipakai. Gaya klasik menjadi pilihan utama. Gaya yang tidak lekang dimakan jaman. Bisa dipakai sampai beberapa tahun ke depan. Jadi tidak perlu bergantung pada tren yang ada. Lumayan, jadi hemat biaya juga, hehe. 

Pilihan saya untuk gaya fashion yang awet sepanjang masa adalah yang berbau etnik. Nuansa etnik pada pakaian dan tas bisa membuat kita tampil beda. 

Sebelum punya tas dengan motif etnik, saya pernah membeli tas dari bahan kulit demi pencitraan sebagai ibu-ibu kelas elite. Tas kulit berwarna coklat sempat menemani hari-hari saya saat bepergian bersama keluarga. Sayang, tas yang harganya cukup mahal tersebut ternyata tidak bertahan lama. Kulit pelapis tas murudul alias terkelupas. Duh, kapok beli tas dari bahan kulit. Balik lagi cari tas etnik ah...

Monday, November 30, 2015

Selamat Datang di www.innariana.com!

Selamat datang di www.innariana.com!


Halo! Sekarang blog Cerita Emakriweuh berganti nama menjadi Inna Riana, sesuai dengan nama saya. 

  Mohon maaf  jika blog ini agak lama tidak diupdate. Seperti biasa, jangan bosan kalau alasannya lagi-lagi karena riweuh. Jadi merasa bersalah. Blog ini berasa 'dianak tirikan' dari blog yang lain. Tidak ingin rasa ini berlanjut, akhirnya saya mengubah blog ini dari domain gratisan menjadi domain berbayar. Alasannya? Simak cerita saya berikut ini...

 Mulai tanggal 27 November 2015, blog www.ceritaemakriweuh.blogspot.com resmi berganti nama menjadi www.innariana.com. Blog hasil 'buka cabang' dari www.emakriweuh.com ini lebih fokus pada kegiatan saya pribadi. Oleh karena itu, saya -ehm- nekad menggunakan nama sendiri untuk blog ini. Namun kata pembuka 'Cerita Emak Riweuh' tetap menyapa pengunjung blog untuk mengingatkan bahwa blog ini masih berhubungan dengan blog Emak Riweuh.

Wednesday, November 4, 2015

Ketika Netty Sakit


Ketika Netty sakit... aku baru menyadari betapa berartinya dia dalam hidupku. Terserang virus yang merusak hard disk membuatku tidak bisa bercengkrama lagi bersama Netty. Dua minggu. Waktu yang cukup lama dan lumayan menyiksa. Hanya bisa berdoa. Semoga hari gajian lekas datang dan Netty bisa segera disembuhkan oleh tukang service komputer.

   Ketika Netty sakit... aku tidak bisa menulis lagi. Lari ke warnet? Sempat juga. Tapi langsung keteteran karena lokasi warnet yang jauh dari rumah. Ditambah keterbatasan waktu karena harus pulang untuk mengurus boyz, maka postingan blog yang lahir dari warnet hanya sekedarnya saja. Asal-asalan. Nggak sempat dibaca ulang. Nggak sempat diedit. Ngetik dan ngedit pakai smartphone? Nggak bisa. Jariku jempol semua.

Monday, October 12, 2015

Tenggelamnya Kapal Titanic. Runtuhnya Keangkuhan Manusia


Suka film apa? Saya malah bingung. Dulu, waktu masih single, saya adalah tukang nonton film dan hobi ke bioskop. Hobi itu langsung berhenti setelah menikah dan tinggal di antah berantah alias tanah rantau. 

   Kenapa berhenti nonton? Jaman dulu, di rantau nggak ada bioskop yang bagus. Lagipula, saat punya bayi mana mungkin mikir mau nonton ke bioskop? Anak dititip ke siapa? Terus, nggak nonton pakai vcd? Engg...entahlah. Perasaan males banget nonton vcd. Pas ada vcd juga yang disetel pasti film anak-anak. 

   Meskipun hampir nggak pernah nonton film bioskop terbaru, saya dan suami masih bisa nonton bioskop saat pulang kampung. Anak yang baru satu bisa dititip ke mertua. Terus, kita berdua kencan deh nonton. Ahiy!

Friday, October 2, 2015

Piknik Sederhana



   Coba lihat foto di atas. Kasihan, ya. Ayam saja bisa galau karena kurang piknik, apalagi manusia. Setali tiga uang dengan Ayang cinta si ayam betina, saya sebagai manusia biasa juga kerap dilanda galau ketika jenuh menghadapi persoalan hidup yang kejam *drama*. Oleh karena itu, saya butuh piknik. 

  Apa sih piknik? Sebenarnya, menurut saya piknik itu pergi ke suatu tempat, gelar tikar, lalu makan bersama. Pada istilah kekinian, piknik kerap diartikan dengan pergi rekreasi jalan-jalan, refreshing ke suatu tempat untuk melepaskan stres. Orang yang sedang stres kerap digunjingkan: sepertinya dia kurang piknik. Iya kan?
Back to Top